Skuat Gajah Terbang APRIL Membantu Perlindungan Lingkungan

Source: APRIL Asia
APRIL Group selalu berkomitmen dalam menjaga kelestarian. Beragam cara mereka lakukan. Salah satunya dengan membentuk Skuat Gajah Terbang (Elephant Flying Squad/EFS).

Program ini merupakan salah satu aksi unik dari APRIL untuk melindungi lingkungan. Seperti namanya, Skuat Gajah TerbangEFS melibatkan gajah dalam melakukan aksi perlindungan lingkungan.

APRIL Indonesia resmi memulai program Skuat Gajah TerbangEFS pada 2005. Namun, jejaknya sudah dimulai pada 1994 berkaitan dengan upaya konservasi gajah.
Harus diakui, gajah, khususnya spesies gajah Sumatera, terancam punah. Jumlahnya dari waktu ke waktu terus menurun. Sebagai rujukan, data dari Mongabay bisa dikedepankan. Mongabay memperkirakan populasi gajah Sumatera menurun hingga 70 persen dalam 20 sampai 30 tahun terakhir.

Sekitar tahun 1980-an, Mongabay menaksir jumlah gajah sumatera masih ada dalam kisaran 4.800 hingga lima ribu ekor. Jumlah itu terus menurun hingga menjadi 2.800 ekor pada era 1990-an. Ketika memasuki 2013, semakin jelas terlihat ancaman kepunahan gajah Sumatera. Populasinya diperkirakan hanya tinggal 1970-an.

Kondisi ini mengundang keprihatinan dari banyak pihak. Pada 1994, pemerintah Indonesia akhirnya mengambil langkah strategis untuk melakukan perlindungan gajah Sumatera. Pemerintah memutuskan untuk membagi tanggung jawab perlindungan satwa yang hampir punah ke swasta. Perusahaan yang bergerak dalam industri kehutanan dan perkebunan diwajibkan untuk mengadopsi dan melindungi gajah.

Sebagai perusahaan yang bergerak di industri kehutanan, APRIL Group menyambut baik ketentuan pemerintah. Produsen pulp and paper terkemuka di dunia ini segera melakukan perlindungan gajah Sumatera. Mereka menjalankannya melalui unit bisnis PT Riau Andalan Pulp & Paper.

APRIL Asia menerima menerima empat ekor gajah dari Balai Konservasi Gajah Sebanga, milik pemerintah Lampung. Mereka dirawat dan dijaga dengan baik. Bagaimana tidak, gajah-gajah itu dipelihara dan dibiarkan bebas berkeliaran di hutan konsesi milik APRIL seluas tiga ribu hektare. Akibatnya, mereka seperti berada habitat alaminya.

Bukan hanya itu, untuk merawat para gajah tersebut, PT RAPP mempekerjakan sembilan pawang gajah atau yang biasa disebut sebagai mahot. Selain itu, para dokter hewan juga rutin dihadirkan untuk memantau perkembangan kesehatan gajah.

Seiring waktu, gajah-gajah tersebut berkembang biak. Namun, efektivitas program konservasi untuk menjaga populasi gajah dipertanyakan. Pasalnya, tidak ada kontribusi langsung bagi keamanan gajah-gajah liar.

Atas dasar ini, APRIL Group bekerja sama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Dewan Taman Nasional Tesso Nilo, dan WWF mengagas kehadiran Skuat Gajah TerbangEFS pada 2005. Dalam program ini, gajah-gajah dilatih untuk melakukan perlindungan terhadap gajah liar.

Perlu diketahui, banyak sekali gajah yang mati akibat konflik dengan manusia. Habitat yang rusak memaksa gajah mencari makan ke kawasan manusia. Saat itulah benturan tak terhindarkan. Akibatnya banyak gajah yang menjadi korban.

Gajah-gajah yang ada di area konservasi akhirnya dilatih oleh para pawang mahot untuk menghalau gajah liar yang turun ke pemukiman penduduk atau ke kawasan perkebunan. Gajah ini juga melakukan patroli di sejumlah area untuk memantau pergerakan gajah liar.

Pada 2014, Skuat Gajah TerbangEFS tercatat memiliki empat ekor gajah yang siap melakukan operasi. Namun, mereka masih punya dua gajah lain yang tengah dilatih oleh pawang untuk menjalankan kegiatan serupa.

Awalnya Skuat Gajah TerbangEFS hanya dioperasikan di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo. Area ini merupakan habitat gajah Sumatera dan dekat dengan kawasan konsesi PT RAPP. Namun, di sana, pembalakan liar terjadi sehingga hutan rusak.
Itulah yang akhirnya memicu pergerakan gajah ke luar dari hutan. Mereka menuju perumahan penduduk maupun perkebunan untuk mencari makan. Akibatnya konflik tak terhindarkan yang berujung terhadap kematian para gajah.

Dalam hal ini, peran Skuat Gajah TerbangEFS sangat penting. Mereka yang mengarahkan gajah liar agar tidak turun ke perumahan warga atau merusak perkebunan. Skuat Gajah TerbangEFS menghalau sesama gajah supaya masuk ke area hutan yang dilindungi oleh APRIL Indonesia. Kebetulan kawasan itu memang dibiarkan terjaga oleh APRIL karena dipakai sebagai penyangga untuk area konsesinya.

Kegiatan yang dijalanan oleh Skuat Gajah TerbangEFS berhasil menekan kematian gajah liar. Sebagai contoh adalah kondisi terakhir pada 2015 dan 2016. APRIL Group dan WWF mencatat jumlah kematian gajah liar pada 2015 ada sepuluh ekor, namun, memasuki 2016, jumlahnya turun menjadi empat ekor saja.

PERLINDUNGAN HUTAN

Source: APRIL Asia
Skuat Gajah TerbangEFS sudah terbukti bermanfaat untuk melindungi kelestarian alam. Berkat keberadaan mereka, tingkat kematian gajah liar turun. Akibatnya sedikit banyak mereka berkontribusi besar terhadap peningkatan populasi gajah serta perlindungannya.

Akan tetapi, kegiatan Skuat Gajah TerbangEFS tidak terbatas dalam upaya konservasi gajah belaka. Mereka ternyata juga berguna dalam menjaga hutan dari ancaman kebakaran dan kerusakan.

Selama ini, gajah-gajah sudah dilatih oleh para mahotpawang. Mereka akhirnya bisa diajak untuk melakukan patroli ke sejumlah kawasan hutan. Gajah-gajah itu bahkan memiliki kelebihan tersendiri. Mereka mampu menembus wilayah-wilayah yang sulit diakses.

Biasanya Skuat Gajah TerbangEFS melakukan patroli setidaknya seminggu sekali. Jumlah patroli bisa meningkat jika memang keadaan membutuhkan atau berada di periode rawan kebakaran.

Kawasan yang dicakup oleh Skuat Gajah TerbangEFS APRIL tidak main-main Mereka mengawasi lahan seluas 16.500 hektare di Ukui Estate agar terbebas dari ancaman api.

Selain menjaga hutan dari bahaya kebakaran, aksi patroli yang dilakukan oleh Skuat Gajah TerbangEFS juga berguna untuk menekan pembalakan liar. Sama seperti hutan-hutan lain di Indonesia, kawasan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo rawan penebangan ilegal. Pohon ditebang untuk dijual dan lahannya kemudian dijadikan perkebunan.

Kondisi ini amat membahayakan kelestarian hutan. Akibatnya, Skuat Gajah TerbangEFS juga mengawasi keberadaan penerbang liar.

“Jika tidak ada gajah liar, target operasi kami adalah penebang liar dan mengawasi keberadaan asap. Ketika mendeteksi keberadaannya, kami langsung melaporkan ke pusat penanganan perusahaan agar segera ditindaklanjuti,” ujar Didik Purwanto, Asisten Kepada Perlindungan Hutan RAPP, Didik Purwanto di Jakarta Post.

Bersamaan dengan itu, Skuat Gajah TerbangEFS menjalin relasi dengan masyarakat. Mereka memberi penyadaran kepada khalayak tentang bahaya api maupun kerugian jika membabat pohon di hutan secara liar. Tim Skuat Gajah TerbangEFS juga membagikan nomor telepon agar masyarakat mudah menghubungi ketika melihat ancaman gajah liar, kebakaran, ataupun penebangan ilegal.

"Kami juga patroli memakai motor ke lingkungan warga juga. Selain itu kami juga mensosialisasikan nomor ponsel ke masyarakat. Gunanya untuk menghubungi kami jika ada gajah masuk ke desa atau kebun mereka. Kami sudah sering mendapatkan telepon pada tengah malam karena ada gajah masuk daerah mereka. Dalam satu bulan, kami bisa lima kali mendapat telepon dari masyarakat," ucap salah seorang pawang gajah, Sarmin, kepada Tribun Pekanbaru.

Kegiatan Skuat Gajah TerbangEFS yang dijalankan APRIL Group akhirnya bisa diibaratkan sebagai sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Upaya untuk menjaga gajah Sumatera dari kepunahan itu ternyata mampu bermanfaat untuk perlindungan lingkungan. Skuat Gajah TerbangEFS bisa digunakan untuk mengawasi hutan dari ancaman kebakaran serta pembalakan liar.

Klik di sini untuk melihat video keseharian mahot dan kegiatan EFS

0 comments:

Posting Komentar