Misi Sukanto Tanoto Untuk Royal Golden Eagle Saat Ini

Source: RGEI
Membicarakan Royal Golden Eagle (RGE) tidak bisa dilepaskan dari sosok Sukanto Tanoto. Ia adalah pendiri sekaligus chairman RGE. Kini setelah perusahaannya telah bergulir dengan stabil, Sukanto Tanoto masih punya misi khusus di sana.

Sukanto Tanoto mulai merintis Royal Golden Eagle sejak pada 1973. Ia mendirikannya dengan nama Raja Garuda Mas terlebih dulu sebelum bertransformasi menjadi RGE.
Memasuki tahun 2017, Royal Golden Eagle telah memasuki usia ke-50 tahun. Dalam umur setengah abad, Royal Golden Eagle telah mengalami perkembangan pesat dibandingkan dulu.

Awal didirikan, hanya ada ada satu bidang bisnis yang ditekuni oleh Sukanto Tanoto di sana. Kala itu, Royal Golden Eagle cuma berkiprah di industri kelapa sawit. Tapi, kini keadaan telah berubah. Sukanto Tanoto berhasil mengembangkan RGE sedemikian pesat.

Bayangkan saja, ada empat bidang industri lain yang digeluti oleh Royal Golden Eagle. Mereka kini tercatat berkiprah dalam bisnis pulp and paper, selulosa spesial, viscose fibre, serta pengembangan energi.

Sukanto Tanoto juga mampu membesarkan Royal Golden Eagle dari perusahaan skala lokal menjadi korporasi kelas internasional. Aset perusahaannya itu ditaksir mencapai 18 miliar dollar Amerika Serikat. Mereka pun sanggup menyediakan lapangan kerja untuk sekitar 60 ribu karyawan yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Sebagai chairman, ada tugas penting yang diemban oleh Sukanto Tanoto untuk Royal Golden Eagle. Ia tidak lagi hanya menjalankan operasional keseharian perusahaan karena ada yang telah melakukannya. Namun, Sukanto Tanoto justru berperan dalam menjaga kesinambungan Royal Golden Eagle untuk masa depan.

“Saya ingin keberlanjutan. Banyak hal yang masih harus dilakukan dan saya tidak bisa melakukannya semuanya. Tugas utama saya kini adalah menjadi keberlangsungan perusahaan dan memastikan operasionalnya berguna bagi negara,” ujar Sukanto Tanoto kepada Globe Asia.

Keberlanjutan merupakan poin penting bagi Sukanto Tanoto. Hal ini bisa dimaknai menjadi dua, yakni kelangsungan dalam segi bisnis maupun kontribusi bagi alam.

Terkait misi yang pertama, Sukanto Tanoto bertindak sebagai pengontrol laju perusahaan. Ia mengawasi operasi Royal Golden Eagle agar terus berada di trek yang tepat. Selain itu, Sukanto Tanoto selalu saja mencari peluang baru untuk mengembangkan maupun mencarikan sumber pendapatan lain untuk Royal Golden Eagle.

Contoh nyata dilakukan oleh Sukanto Tanoto ketika memutuskan untuk terjun ke bidang pengembangan energi. Saat ini, ia berambisi menjadikan anak perusahaan Royal Golden Eagle, Pacific Oil & Gas, menjadi pihak pertama yang berhasil mengekspor Liquified Natural Gas (LNG) dari Kanada ke luar negeri.

Langkah pria kelahiran 25 Desember 1948 ini terbilang berani. Dalam usia yang tak lagi muda, Sukanto Tanoto ternyata masih bersemangat untuk mencoba tantangan baru seperti industri LNG. Di mata Sukanto Tanoto, ini adalah peluang bisnis besar yang bagus untuk grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas tersebut.

“Mengapa dilakukan sekarang? Hidup memang seperti ini. Ketika memulai bisnis pada 48 tahun lalu, saya hanya ingin bertahan hidup, cari makan,” papar Sukanto Tanoto kepada Globe Asia pada 2015 lalu.

Sukanto Tanoto bermaksud menyatakan bahwa kondisi sekarang berbeda dibanding dulu. Saat pertama memulai Royal Golden Eagle, ia hanya menyambung hidup. Namun, kini ia harus menjaga perusahaan tersebut untuk terus eksis. Pencarian bidang bisnis anyar seperti itu merupakan salah satu langkahnya.

Kebetulan bagi Sukanto Tanoto hal itu bukanlah problem besar. Ia memang menyukai tantangan. Berulang kali ia menerjuni industri berbeda meski belum punya pengalaman sama sekali di sama. Sama seperti bidang bisnisnya yang lain, terjun ke industri energi dianggapnya sebagai pembelajaran penting yang menarik.

“Kapan lagi dalam hidup memiliki kesempatan untuk bersaing dengan perusahaan seperti Shell, Chevron, dan British Petroleum,” ucap Sukanto Tanoto.

Segi keberlanjutan yang menjadi penekanan Sukanto Tanoto tak hanya terkait aspek bisnis. Ia juga memastikan operasional perusahaannya memerhatikan keseimbangan iklim. Ini juga penting karena Royal Golden Eagle merupakan korporasi yang menjadikan pemanfaatan sumber daya alam sebagai basis bisnisnya. Hal ini membuat mereka harus menjaga kelestarian alam supaya roda perusahaan terus berputar.

Untuk memastikan agar hal tersebut berjalan baik, Sukanto Tanoto menggariskan arahan kerja yang menjadi filosofi bisnis Royal Golden Eagle. Ia menamainya sebagai prinsip kerja 5C.

Secara umum, Sukanto Tanoto hendak mengarahkan agar semua anak perusahaan Royal Golden Eagle mampu berguna kepada pihak lain. Dengan spesifik, ia memerintahkan agar operasional RGE bagus untuk konsumen, internal perusahaan sendiri, masyarakat, negara, hingga untuk alam.

Sukanto Tanoto sadar saat ini kerusakan alam terjadi di mana-mana. Maka, ia tak ragu menggariskan prinsip bagus untuk iklim sebagai salah satu bagian filosofi bisnis Royal Golden Eagle. Oleh karena itu, semua operasional RGE wajib memperhatikan kelestarian lingkungan.

BERMANFAAT UNTUK NEGARA

Source: Sukantotanoto.net
Filosofi bisnis yang digariskan oleh Sukanto Tanoto untuk Royal Golden Eagle juga berkaitan erat dengan misi yang diusungnya. Ia ternyata ingin mendorong perusahaannya itu memberi manfaat sebesar mungkin. Jadi, Royal Golden Eagle tak hanya mementingkan kepentingan internal belaka. Secara khusus, ia ingin perusahaannya memberi dampak positif yang besar bagi Indonesia.

Cara menjalankannya sangat beragam. Di bawah kendali Sukanto Tanoto, Royal Golden Eagle selalu mencari jalan untuk berkembang bersama masyarakat di sekitarnya.

Ada banyak langkah yang diambil. Warga diajak sebagai mitra. Mereka dibina dan dibekali kemampuan yang bermanfaat dalam bidang tertentu. Sesudahnya, mereka bergabung sebagai partner Royal Golden Eagle.

Contohnya sangat beragam. Dalam industri kelapa sawit misalnya. Royal Golden Eagle mengajak para petani untuk bergabung dalam sistem plasma inti. Asian Agri buktinya. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini membiarkan 60 ribu hektar dari total 160 hektar lahan perkebunannya dikelola oleh petani plasma. Bukan hanya itu, Asian Agri juga melakukan kemitraan dengan sekitar 29 ribu petani swadaya lain.

Lain lagi dengan anak perusahaan RGE, APRIL Group. Mereka malah sering menggandeng warga menjadi mitra kerja misalnya untuk menyuplai media tanam bibit akasia. Anggota masyarakat diberinya keterampilan untuk membuatnya. Sesudah itu, APRIL membuka kesempatan untuk memasukkan ke nursery miliknya.

Beragam langkah itu merupakan wujud nyata bahwa RGE memberi manfaat kepada negara. Selain itu, sejatinya perusahaan Sukanto Tanoto telah berkontribusi besar terhadap negara. Paling sederhana dalam segi pembukaan lapangan kerja. Sejumlah anak perusahaan RGE telah memberi kesempatan bekerja bagi banyak pihak. Tak kurang dari 60 ribu orang yang menikmatinya.

Bersamaan dengan itu, keberadaan perusahaan Sukanto Tanoto pasti memajukan sebuah kawasan. Pangkalan Kerinci menjadi contoh. Dari desa terpencil dengan penduduk sekitar 200-an orang pada 1990-an, Pangkalan Kerinci kini berkembang menjadi kawasan yang dinamis.

Lihat saja, berdasarkan data Inside RGE, per 2015, ada 102. 296 orang yang berdomisili di Pangkalan Kerinci. Banyak di antara mereka yang bekerja di RGE, selain hidup dari beragam sektor lain.

Hal ini merupakan perwujudan dari misi yang diusung Sukanto Tanoto. Sebagai chairman Royal Golden Eagle, ia terus berusaha memajukan perusahaannya sembari memastikan operasionalnya bermanfaat bagi pihak lain.

0 comments:

Posting Komentar