Royal Golden Eagle Terus Bekerja sama Dengan Petani Plasma

Source: Inside RGE
Kata siapa perusahaan besar tidak bisa berjalan seiring sejalan dengan rakyat kecil seperti petani? Lihat saja kiprah Royal Golden Eagle (RGE). Grup perusahaan yang didirikan dengan nama awal Raja Garuda Mas ini terbukti bisa bekerja sama dengan baik dengan para petani plasma dari dulu hingga kini.

Petani plasma merupakan sebuah konsep yang dipakai oleh Pemerintah Indonesia untuk membuat perusahaan besar berjalan bersama dengan petani kecil. Mereka menamainya sebagai Perkebunan Inti Rakat (PIR).

Hal ini merupakan perwujudan konkret dari Trilogi Pembangunan yang dicanangkan Pemerintah Indonesia. Di dalamnya berisi pernyataan bahwa Perkebunan Rakyat menjadi tulang punggung pembangunan perkebunan dengan dukungan peran strategis BUMN perkebunan dan pelayanan terhadap pengembangan usaha perkebunan besar swasta.

Pemerintah Indonesia mulai menjalankan PIR ketika  program transmigrasi digalakkan pada era 1980-an. Kala itu, antara 1979 gingga 1894, sekitar 2,5 juta orang difasilitasi untuk pindah dan menetap di luar Pulau Jawa seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap beragam masalah sosial yang muncul sebagai akibat kepadatan Pulau Jawa. Selain itu, program transmigrasi juga dimaksudkan untuk menekan angka kemiskinan dengan menyediakan lahan dan kesempatan baru sebagai sumber mata pencaharian.

PIR akhirnya diintegrasikan dengan program transmigrasi. Royal Golden Eagle bahkan menjadi salah satu pelopornya melalui lini bisnisnya, Asian Agri. Perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit ini menjadi perintis sistem PIR dalam perkebunan kelapa sawit. Bahkan, hingga kini, komitmen Asian Agri sebagai perusahaan inti dalam kemitraan PIR tetap kuat dan tidak berubah sama sekali.

Perlu diketahui, sistem petani plasma membuat perusahaan besar seperti Royal Golden Eagle bertindak sebagai perusahaan inti. Sementara itu, para petani kecil berperan sebagai petani plasma.

Sebagai perusahaan inti, Asian Agri bertanggung jawab untuk mendampingi dan mengembangkan petani plasma. Lini usaha RGE ini membina petani plasma dalam pengelolaan lahan dua hektare yang diberikan oleh pemerintah kepada setiap keluarga. Mereka mengajarinya cara mengembangkan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Dalam prosesnya, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini turut memberikan pengetahuan dan keterampilan pada petani dalam budidaya dan pengelolaan perkebunan.

Semua itu masih belum cukup. Asian Agri masih memberikan bantuan lain dalam hal finansial. Mereka bertindak sebagai penjamin untuk bank ketika petani plasma membutuhkan pinjaman modal.

Proses pendampingan dilakukan selama empat tahun. Sesudahnya, ketika dirasa sudah siap, perkebunan inti seperti Asian Agri kemudian menyerahkan lahan agar dikelola oleh petani plasma sepenuhnya.

Bagi para petani plasma, sistem PIR seperti ini dirasa sangat membantu. Selain mendapat pendampingan dan dukungan untuk mendapatkan modal dengan mudah, mereka juga mendapatkan kepastian penjualan hasil perkebunannya. Tandan buah segar kelapa sawit di kebun mereka dapat dijual di perkebunan inti seperti Asian Agri dengan nilai harga yang ditetapkan oleh pemerintah.

Berkat kemitraan seperti ini, cukup banyak petani plasma yang mengalami perubahan hidup secara positif. Taraf ekonomi mereka meningkat dengan drastis. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya mampu mengembangkan perkebunannya lebih luas.

Menurut data yang dipaparkan oleh Sahabat Asian Agri, skema kemitraan petani plasma telah membawa perbaikan yang signifikan untuk kesejahteraan dan taraf hidup petani kecil. Saat ini, petani di bawah naungan anak usaha RGE ini menikmati pendapatan Rp 2,5 juta hingga Rp3,6 juta per bulan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari upah minimum propinsi. Tak aneh, 75% dari petani plasma Asian Agri sudah mampu melunasi pinjaman mereka ke bank.

Bukan hanya itu, belakangan, ilmu yang mereka dapatkan juga kian bertambah. Perlu disadari, agar produk olahan hasil perkebunan kelapa sawit diterima di pasar internasional, produsennya harus memastikan penanaman dengan sistem berkelanjutan. Hal itu ditandai dengan praktik perkebunan sawit lestari.

Petani plasma akhirnya ikut merasakan buahnya. Oleh perusahaan inti seperti Royal Golden Eagle, mereka diajari pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan. Ini penting untuk memastikan kelestarian lingkungan terjadi sembari menjaga agar hasil perkebunannya diterima di pasar internasional.

KERJA SAMA DENGAN RIBUAN PETANI PLASMA
Source: Asian Agri
Keseriusan grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini dalam menjalin kerja sama dengan petani plasma tergambar nyata dalam jumlah mitranya. Menurut Asian Agri, pihaknya kini mengelola sekitar 100 ribu hektare lahan perkebunan kelapa sawit. Namun, jumlah itu masih ditambah dengan 60 ribu hektare yang dikelola oleh para petani plasma.

Berkat kerja sama tersebut, Asian Agri berarti sudah bermitra dengan sekitar 30 ribu petani plasma yang ada di Riau dan Jambi. Mereka itulah yang mengelola 60 ribu hektare lahan dalam sistem PIR.

Kesuksesan tersebut tidak membuat Asian Agri berpuas diri. Sebaliknya mereka malah berusaha keras menjaga komitmen untuk besar bersama dengan para petani plasma.

“Bukan hanya menjadi komitmen, kemitraan telah menjadi business model kami. Bisa dianalogikan bahwa kemitraan dengan petani merupakan ‘DNA’ Asian Agri. Sebuah kesatuan yang tidak bisa terpisahkan dengan perusahaan,” ungkap Freddy Widjaya, Direktur Asian Agri, dalam wawancara dengan Sawit Indonesia.

Ucapan Freddy bisa dibuktikan secara nyata. Kini, sekitar 50 persen bahan baku dalam produksi minyak kelapa sawit Asian Agri berasal dari petani plasma. Jumlah itu tidak sembarangan karena tidak mudah untuk melakukannya.

Bukan hanya itu, Royal Golden Eagle juga secara aktif terus mengembangkan kesejahteraan petani plasmanya. Salah satu contoh nyata terjadi pada Desember 2016 lalu. Saat itu, Asian Agri membagikan premi kepada para petani plasma binaan yang ada di Riau dan Jambi.

Premi yang dikenal dengan nama Premium Sharing tersebut merupakan insentif dari penjualan minyak sawit berkelanjutan yang diserap oleh pasar internasional selama tahun penjualan 2015. Jumlahnya pun tidak sedikit karena mencapai sekitar Rp2,6 miliar.

Nantinya dana itu bakal dibagi kepada 30.000 orang petani plasma yang bernaung di bawah enam asosiasi Koperasi Unit Desa (KUD).  Adapun keenam asosiasi KUD tersebut membawahi lebih dari 71 KUD dengan jumlah petani plasma sebanyak 30.000 orang. Total lahan yang dikelola oleh para petani plasma ini mencapai 60.000 hektare.

Asian Agri berharap, dana yang dibagikan akan dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas hidup. “Misalnya untuk perbaikan infrastruktur desa, pelatihan praktik ramah lingkungan, peningkatan kapasitas petani, serta kegiatan lain untuk kesejahteraan petani," kata Freddy di Berita Satu.

Tak aneh, anak usaha Royal Golden Eagle ini mendapat pujian dari pemerintah. Mereka mengapresiasi komitmen grup yang dulu pernah bernama Raja Garuda Mas ini untuk terus menjalankan kemitraan dengan petani plasma.

“Program inti plasma ini sudah lama dirancang, tapi terkikis oleh zaman. Tapi Asian Agri terus menjalankannya secara konsisten. Tadi saya dengar sebagai yang tertinggi. Inilah yang membanggakan saya," ujar Enggarstiasto Lukita yang kini menjabat sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia di Berita Satu.

Terlihat nyata bahwa perusahaan besar bisa berjalan seiring dengan petani kecil. Kesuksesan RGE dalam membangun kemitraan dengan petani plasma merupakan bukti yang dapat dikedepankan.

0 comments:

Posting Komentar