Visi Sukanto Tanoto Untuk Bersaing di Pentas Internasional Semakin Terbukti

Indonesia merupakan pasar yang sangat menarik. Namun, bukan berarti pengusaha lokal tidak harus bersaing di tingkat global. Hal itulah yang diingini oleh pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto. Ia berharap banyak wirausahawan dalam negeri yang berani berkompetisi di pasar internasional.

Sukanto Tanoto tidak sekadar memberi dorongan. Ia memberi contoh dengan melakukannya secara nyata. RGE yang dipimpinnya telah berkembang dari perusahaan skala lokal ke korporasi kelas internasional.

Dengan aset senilai 20 miliar dolar Amerika Serikat, RGE membawahi delapan perusahaan yang bergerak di sektor sumber daya alam. Mereka adalah APRIL dan Asia Symbol (pulp dan kertas), Asian Agri dan Apical (kelapa sawit), Bracell (selulosa khusus),  Sateri dan Asia Pacific Rayon (serat viskosa), serta Pacific Oil & Gas (pengembangan sumber daya energi).

Perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya ada di Indonesia. Seperti arahan Sukanto Tanoto, mereka melebarkan sayap ke berbagai belahan dunia lain. RGE kini tercatat beroperasi hingga ke kawasan Asia Tenggara lain, Tiongkok, Brasil, Spanyol, dan Kanada.

“Strategi bisnis saya antara fokus di satu kawasan dengan banyak bisnis atau menjadi pemain global dalam bisnis tertentu. Sejak saya memilih menuju pentas global, di sinilah kami sekarang berada,” papar Sukanto Tanoto.

Tidak aneh perusahaan-perusahaan di bawah naungan RGE tidak hanya berkutat di skala domestik. Semuanya berlomba untuk menuju pentas internasional. Ini juga berlaku untuk mereka yang berbasis di Indonesia.

Hal tersebut justru menjadi motivasi ekstra. Pasalnya belum banyak perusahaan dalam negeri yang berani ke luar menuju pentas global. Namun, lain halnya dengan RGE, mereka terbiasa bersaing ke pasar internasional sehingga pantas menjadi contoh.

Inilah contoh yang dilakukan oleh APRIL dan Asian Agri.

APRIL Group


Image Source: Aprilasia.com
https://www.aprilasia.com/id/our-media/galeri-media
APRIL merupakan salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Per tahun, mereka mampu memproduksi pulp hingga 2,8 juta ton. Hal tersebut masih ditambah dengan produksi kertas yang mencapai 1,15 juta ton dalam jangka waktu yang sama.

Saat ini APRIL tidak hanya fokus ke dalam negeri belaka. Mereka juga aktif mendorong pengembangan pasar luar negeri yang begitu besar. Berbagai langkah sudah dilakukan, sehingga banyak pihak yang mengapresiasi kinerja APRIL. Salah satunya ialah Pemerintah Indonesia yang sampai memberikan penghargaan khusus.

Pada 16 Oktober 2019 lalu, unit bisnis APRIL, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) yang memperolehnya. Waktu itu, mereka menerima Primaniyarta Awards 2019 yang merupakan penghargaan tertinggi bidang ekspor dari Pemerintah Indonesia.

Saat itu, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, memberikan penghargaan secara langsung. Primaniyarta Awards 2019 kemudian diterima oleh Direktur Utama RAPP, Sihol Aritonang di Tangerang.

“Apresiasi Primaniyarta Awards 2019 kepada APRIL Group memacu kami untuk terus mengembangkan produk yang berkualitas,” kata Sihol di Antara.

Primaniyarta Awards merupakan penghargaan bergengsi dari Pemerintah Indonesia untuk mereka yang masuk kategori Eksportir Berkinerja dan Berprestasi. Bagi RAPP, ini menjadi penghargaan serupa kedua yang pernah diraihnya.

Pencapaian tersebut tidak mengherankan. Melalui unit operasionalnya PT Riau Andalan Kertas, kinerja ekspornya terus meningkat. Tercatat sejak 2014, peningkatannya mencapai 41 persen. Nilainya bahkan menembus angka 312,8 juta dolar AS.

Adapun produk yang paling menonjol adalah kertas merek PaperOne Sampai sekarang produknya sudah dipasarkan ke lebih dari 70 negara. Bukan hal mengherankan melihat kualitasnya yang tinggi. Sudah begitu,  PaperOne dihasilkan dari proses produksi yang bertanggung jawab kepada alam dan masyarakat di sekitar.

Berkat itu, pada 2018, PaperOne berhasil menyabet Primaniyarta Awards dalam kategori salah satu perusahaan dengan merek terbaik yang bisa bersaing di pasar global. Sebuah hal yang selaras dengan visi Sukanto Tanoto. Ia menginginkan perusahaannya mampu berkompetisi di pentas internasional yang mampu dilakukan dengan baik oleh APRIL.

Namun, APRIL tidak mau berpuas diri. Untuk menjaga terus mendongkrak pasar ekspor APRIL telah memiliki kantor penjualan dan kantor penghubung pemasaran di berbagai negara. Tercatat kantor tersebut ada di Singapura, Malaysia, China, Macau, Timur Tengah, Australia, dan Selandia Baru.

Asian Agri


Image Source: Asianagri.com
https://www.asianagri.com/images/articles/penciptaan-nilai-bersama/ekspor-01.png

Asian Agri merupakan salah satu perusahaan Sukanto Tanoto yang bergerak di sektor kelapa sawit. Mereka termasuk sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di Asia dengan kapasitas produksi mencapai 1,2 juta metrik ton per tahun.

Dalam operasionalnya, Asian Agri mengelola perkebunan seluas 100 ribu hektare. Mereka pun bekerja sama dengan petani plasma maupun petani swadaya. Kolaborasi itu mencakup lahan seluas 60 ribu hektare untuk petani plasma dan 41 ribu hektare untuk petani swadaya.

Bukan rahasia lagi, saat ini kelapa sawit terus menjadi industri penting sebagai penopang perekonomian nasional. Tidak aneh karena minyak kelapa sawit masih menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia dan penyumbang devisa terbesar.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Katadata.co.id, kontribusi devisa minyak sawit mencapai Rp265 triliun pada 2018. Itu menandakan betapa besar porsi ekspor industri kelapa sawit. Adapun tiga negara tujuan ekspor minyak kelapa sawit terbesar adalah India (6,71 juta ton), Uni Eropa (4,78 juta ton), dan Tiongkok (4,41 juta ton).

Bukan hal aneh pula karena ekspor menjadi orientasi utama industri kelapa sawit. Sebagai gambaran, menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), 70 persen dari produksi sawit 2018 dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan 30 persen sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Asian Agri yang merupakan pemain penting dalam industri kelapa sawit Indonesia menjalankan kebijakan yang sama. Ekspor tetap diperhatikan meski tengah terjadi penurunan. Salah satu caranya ialah dengan membuka pasar baru yang belum terlalu digarap.

"Kita dukung buka pasar baru dibandingkan pasar tradisional. Kami targetkan bisa Pakistan dan Bangladesh atau negara lain di Afrika juga berpotensi cukup besar," kata Director of Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri, Bernard A. Riedo.

Langkah tersebut menandakan Asian Agri masih optimistis untuk bersaing di pentas internasional. Mereka hanya berharap ada dukungan dari pemerintah demi mempermudah persaingan.

Saat ini, industri kelapa sawit dalam negeri menghadapi isu lingkungan yang dilemparkan oleh pihak asing. Padahal, industrinya dikelola secara berkelanjutan. Secara khusus, Asian Agri telah melakukannya dengan baik.

Sekarang Asian Agri telah memiliki sertifikat tanda keberlanjutan seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) serta Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Hal itu menjadi langkah untuk mendorong pengelolaan sawit yang semakin baik dan berdaya saing global.

“Saat ini, semua petani Asian Agri bersertifikasi RSPO,” tandas Corporate Affair Director Asian Agri, Mohamad Fadhil Hasan, di Kumparan.

Berbagai upaya tersebut menandakan Asian Agri tetap konsisten bersaing di pasar internasional. Mereka teguh menjalankan arahan Sukanto Tanoto yang ingin segenap pihak di RGE berani berkompetisi di level global.

0 comments:

Posting Komentar