Perusahaan Sukanto Tanoto Ikut Menggagas Kelahiran Fire Free Alliance

Image Source: APRIL
Pendiri Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto, menekankan kelestarian alam dalam operasional perusahaannya. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kebakaran lahan dan hutan. Ini yang akan mereka hadapi bersama RGE.

Sukanto Tanoto mendirikan RGE pada 1967 dengan nama Raja Garuda Mas. Perusahaannya ini sudah menjadi korporasi kelas internasional yang menaungi tujuh anak perusahaan. Adapun perusahan-perusahaan tersebut bergerak di industri berbeda mulai dari kelapa sawit, selulosa spesial, serat viscose, pulp dan kertas, serta minyak dan gas.

APRIL merupakan satu di antaranya. Perusahaan Sukanto Tanoto ini berkecimpung di sektor pulp dan kertas. Kini, mereka termasuk sebagai salah satu pemain besar di industrinya. Per tahun, APRIL sanggup memproduksi kertas sebanyak 1,15 juta ton. Itu masih ditambah dengan pembuatan pulp hingga 2,8 juta ton dalam jangka waktu yang sama.

APRIL tidak hanya dikenal berkat kiprahnya di industri pulp dan kertas global. Mereka juga mencuri perhatian khalayak karena konsistensinya dalam perlindungan alam, khususnya dalam menjaga lahan dan hutan dari bahaya kebakaran.

Keseriusan perusahaan Sukanto Tanoto dalam melakukannya terlihat dari langkah menggulirkan Program Desa Bebas Api. Ini merupakan upaya untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan dengan melibatkan masyarakat dan para pemangku kepentingan.

APRIL mulai merintisnya sejak 2015. Sejak saat itu, Program, Desa Bebas Api dirasa sukses. Pasalnya, tingkat kebakaran lahan dan hutan di daerah yang berpartisipasi menurun drastis atau bahkan hilang sama sekali.

Keberhasilan itu rupanya menginspirasi pihak lain. Banyak pemangku kepentingan seperti perusahaan swasta lain yang tergerak untuk mengikuti langkah APRIL. Ini yang akhirnya diwujudkan secara nyata dengan membentuk Fire Free Alliance (FFA).

FFA merupakan gabungan dari sejumlah pemangku kepentingan yang ingin membantu menangani kebakaran lahan dan hutan di Indonesia dengan sukarela. Mereka mulai berdiri pada Februari 2016. Pendirinya adalah dua perusahaan Sukanto Tanoto, APRIL dan Asian Agri, bersama sejumlah pihak lain mulai dari IDH, Musim Mas, PM.Haze, Rumah Pohon, hingga Wilmar.

Tujuan pendiriannya tak lepas dari upaya untuk mencegah hingga mengatasi kebakaran lahan dan hutan. Kolaborasi dari berbagai pihak tersebut diharapkan akan memperluas jangkauan hingga menambah sumber daya dalam pelaksanaan pencegahan dan penanganan api.

"Program FFA ini menunjukkan bagaimana sektor swasta bermitra dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil dapat meningkatkan area bebas api melalui tindakan sukarela," kata Lucita Jasmin, Direktur APRIL untuk Sustainability & External Affairs mengatakan, "Kolaborasi di bawah naungan FFA akan membantu memperluas keberhasilan strategi pencegahan kebakaran dengan area yang lebih luas."

Di dalam FFA, peran perusahaan Sukanto Tanoto tidak kecil. Selain menjadi penggagas pendirian, kegiatan yang mereka jalankan juga diadopsi oleh FFA. Program Desa Bebas Api yang sudah dijalankan dipilih untuk dijadikan basis utama FFA.

Selama ini Program Desa Bebas Api tidak hanya dinilai sukses. Kegiatan ini juga dipandang sebagai terobosan di dalam manajemen kebakaran lahan dan hutan di Indonesia. Lihat saja, program ini mengedepankan pencegahan dibanding rehabilitasi lahan dan hutan yang sudah rusak. Sebelumnya penanganan kebakaran di dalam negeri hanya bersifat reaktif sehingga sudah ada kerugian yang dirasakan.

Selain itu, Program Desa Bebas Api juga melibatkan masyarakat. Desa diajak berpartisipasi. Untuk menarik minat, diadakan program insentif. Desa yang mampu menjaga wilayahnya terbebas dari bahaya kebakaran bakal mendapat dana pembangunan infrastruktur sebesar Rp50 juta hingga Rp100 juta.

RAGAM KEGIATAN DI FFA


Image Source: Aprilasia.com
Setelah mengadopsi Program Desa Bebas Api, FFA menjalankan berbagai kegiatan yang sama. Namun, karena merupakan gabungan berbagai pihak, dalam pelaksanaan, mereka bisa berbagi pengalaman dan praktik-praktik terbaik tentang bagaimana kerjasama dan keterlibatan dengan masyarakat dapat melindungi hutan dari risiko kebakaran yang tinggi.

Dalam wadah FFA, para anggota ,termasuk perusahaan Sukanto Tanoto, berkomitmen untuk berkolaborasi dan berbagi pengetahuan, informasi dan sumber daya yang ada untuk melaksanakan upaya pencegahan kebakaran. Berkat itu, mereka mampu meningkatkan pemantauan, pendeteksian, serta penekanan titik api sehingga kebakaran lahan dan hutan bisa diantisipasi.

“FFA memberikan wadah untuk membantu meningkatkan Program Desa Bebas Api dan memungkinkan perusahaan-perusahaan lainnya serta LSM-LSM untuk berkolaborasi dan berbagi praktik-praktik terbaiknya,” ujar Direktur Royal Golden Eagle, Anderson Tanoto.

Akan tetapi, FFA tidak hanya mengadopsi Desa Bebas Api dan menjadikannya sebagai satu-satunya kegiatan. Mereka juga menggulirkan berbagai program lain untuk semakin memperkuat perlindungan lahan dan hutan dari bahaya kebakaran.

Tercatat ada lima program lain yang dijalankan oleh FFA. Pertama adalah pembentukan Village Crew Leader (VLC). FFA merekrut sejumlah orang dari masyarakat lokal sebagai VLC. Merekalah yang menjadi garda terdepan dalam penanganan masalah kebakaran lahan dan hutan.

Nanti VLC yang akan bekerja mendeteksi ancaman kebakaran sejak dini. Dengan datang ke warga secara langsung, mereka menyebarkan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membakar untuk membuka lahan baru. VLC bahkan dapat dihubungi oleh para petani ketika membutuhkan bantuan untuk mengolah lahan pertanian.

Kegiatan VLC berkaitan dengan program AFA lain, yakni pendampingan sistem pertanian berkelanjutan. Pertanian yang ramah alam menjadi hal krusial karena seringkali kebakaran terjadi akibat ulah manusia. Banyak pihak yang membuka lahan pertanian anyar dengan membakar.

Mengacu kepada keberhasilan perusahaan Sukanto Tanoto dalam Program Desa Bebas Api, FFA melakukan pendampingan dan pelatihan cara-cara bertani yang berkelanjutan. Mereka memberikan dukungan peralatan dan mesin pertanian. Selain itu, FFA juga memfasilitasi petani supaya mendapat bimbingan dari para pakar dari Universitas Riau.

FFA melengkapi kegiatan dengan melakukan sosialisasi penyadaran. Mereka menaunginya dalam program Community Fire Awareness yang bertujuan membuka mata khalayak terhadap ancaman dan kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran. Bentuk nyata kegiatan ialah pemasangan spanduk, pamflet, hingga seminar.

FFA juga melakukan monitor kondisi udara. Ini juga dilakukan oleh perusahaan Sukanto Tanoto yang kontinu menjalankan pemantauan kualitas udara dalam Program Desa Bebas Api. Mereka memasang sejumlah alat pemantau agar bisa memberikan informasi yang tepat bagi masyarakat serta memberi peringatan ketika kualitas udara memburuk.
Belajar dari kesuksesan perusahaan Sukanto Tanoto, FFA juga membuka mengajak publik untuk berpartisipasi dalam perlindungan lahan dan hutan dari bahaya api. Siapa saja diberi kebebasan untuk memberi saran yang bermanfaat dalam upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan. Jika dirasa berguna, kegiatan itu bisa menjadi proyek perintis yang dilakukan oleh FFA.

Dalam perjalanan, FFA berhasil menambah anggota baru. Aliansi yang digagas oleh perusahaan Sukanto Tanoto ini memasukkan Sime Darby dan IOI Group sebagai anggota baru pada Maret 2017. Tentu saja ini merupakan pencapaian positif karena menambah luas jangkauan ABA.

Namun, lebih penting dari semua itu adalah kesadaran bahaya kebakaran telah tumbuh. Bagi perusahaan Sukanto Tanoto, inilah yang terpenting. Sebab, dengan demikian kepedulian terhadap kelestarian alam akan muncul.

0 comments:

Posting Komentar